AdvertorialDPRD KALTIM

DPRD Kaltim Soroti Jalan Rusak di Sekitar Pabrik Kobexindo Cement, Nilai Tak Ada Kepedulian Infrastruktur

wartapedia.co.id, SAMARINDA – Komisi IV DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) menyoroti kondisi jalan akses menuju pabrik PT Kobexindo Cement di Desa Selangka, Kecamatan Kaliorang, Kutai Timur, yang hingga kini masih belum tersentuh pembangunan layak. Padahal, pabrik tersebut disebut-sebut sebagai salah satu fasilitas produksi semen terbesar di dunia.

Ketua tim kunjungan, Darlis Pattalongi, yang juga Sekretaris Komisi IV, menyayangkan kondisi tersebut. Ia menyebut, jalan sepanjang 6 kilometer dari jalan poros desa menuju area pabrik masih berupa tanah, bahkan sulit dilalui saat hujan turun.

“Ini perusahaan dengan investasi raksasa, tapi jalan ke pabriknya seperti belum masuk peta. Warga dan kendaraan logistik harus berjibaku melewati jalan tanah yang rawan rusak. Kalau musim hujan, bisa lebih dari 30 menit untuk tempuh 6 kilometer,” ungkap Darlis.

Komisi IV mendatangi pabrik tersebut untuk melakukan pemantauan terkait aspek ketenagakerjaan, tanggung jawab sosial, dan perlindungan lingkungan. Namun dalam kunjungan itu, rombongan DPRD hanya disambut pejabat setingkat asisten manajer dari pihak perusahaan, yang bahkan tak bisa berkomunikasi langsung karena keterbatasan bahasa.

Tak hanya infrastruktur, DPRD juga menyoroti dampak jangka panjang aktivitas pabrik terhadap lingkungan sekitar, mengingat lokasi pabrik berada di wilayah sensitif, berbatasan langsung dengan kawasan bentang alam karst Sangkulirang–Mangkalihat.

“Karst ini bukan cuma bukit kapur, tapi sumber air bagi Kutim, Berau, bahkan Bontang. Kalau terganggu, bisa berakibat krisis air. Ini bukan hal sepele,” tegasnya.

Menurut Darlis, pembangunan pabrik di wilayah dengan nilai ekologis tinggi seperti karst semestinya mendapat pengawasan ketat, terutama dalam hal pengelolaan limbah, penggunaan air, dan eksploitasi sumber daya.

DPRD Kaltim juga mempertanyakan urgensi pendirian pabrik baru di tengah kondisi industri semen nasional yang mengalami kelebihan pasokan. Data yang dikantongi Komisi IV menunjukkan, kapasitas produksi nasional mencapai hampir 120 juta ton per tahun, sementara konsumsi domestik hanya berkisar 65 juta ton.

“Dengan pasokan berlebih hingga 54 juta ton, masuk akal kalau kita bertanya: siapa yang benar-benar diuntungkan dari pabrik ini? Apakah masyarakat lokal ikut menikmati, atau hanya jadi penonton?” ujar Darlis.

Pasalnya, hingga saat ini, keterlibatan tenaga kerja lokal di PT Kobexindo Cement dinilai masih minim. Warga sekitar belum merasakan dampak signifikan dari investasi besar tersebut. (W/ADV/SR).