wartapedia.co.id, Penajam – Persoalan pendidikan di Penajam Paser Utara (PPU) kembali menjadi sorotan DPRD. Wakil Ketua II DPRD PPU, Andi Muhammad Yusuf, menilai bahwa meski tingkat buta aksara di daerah terus menurun, tantangan baru muncul pada angka putus sekolah yang masih tinggi dan berpotensi menghambat daya saing sumber daya manusia lokal.
Menurutnya, kondisi saat ini tidak lagi bergantung pada kemampuan membaca dan menulis, melainkan kemampuan memenuhi standar minimal pendidikan yang dibutuhkan dunia kerja. Karena itu, pemerintah daerah harus menyusun strategi yang lebih serius untuk mengembalikan anak-anak yang putus sekolah ke jalur pendidikan, baik formal maupun nonformal.
“Buta aksara sudah jarang sekarang. Tantangannya adalah bagaimana pemerintah daerah memberi perhatian kepada anak-anak yang putus sekolah,” ujarnya.
Andi menegaskan bahwa pendidikan nonformal, seperti program kejar paket, adalah solusi yang sangat mungkin dilakukan dalam waktu relatif cepat. Program ini tidak hanya membantu peserta mendapatkan kembali akses pendidikan, tetapi juga memberikan kesempatan memperoleh ijazah resmi yang dapat digunakan untuk melamar pekerjaan.
“Lewat program pendidikan nonformal atau program kejar paket, mereka bisa dapat ijazah. Ijazah penting sekali untuk memenuhi syarat lowongan pekerjaan,” lanjutnya.
Ia menekankan bahwa keberadaan ijazah bukan sekadar dokumen administratif, tetapi merupakan pintu masuk utama bagi tenaga kerja lokal untuk bisa bersaing. Di tengah perkembangan Ibu Kota Nusantara (IKN) yang akan menyerap banyak tenaga kerja, Andi berharap masyarakat PPU tidak tertinggal hanya karena syarat pendidikan yang tidak terpenuhi. (W/ADV/SR)




