AdvertorialDPRD KALTIM

Fraksi Golkar: Deretan Pencemaran Jadi Alarm Krisis Ekologis di Kaltim

wartapedia.co.id, SAMARINDA – Fraksi Partai Golkar DPRD Kalimantan Timur (Kaltim) menilai bahwa sederet kasus pencemaran yang terjadi dalam beberapa tahun terakhir merupakan sinyal darurat ekologis yang tak boleh diabaikan. Mereka mendesak agar pemerintah daerah menjadikan persoalan ini sebagai prioritas utama dalam pembahasan Raperda Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

Dalam Rapat Paripurna ke-23 DPRD Kaltim, Senin (14/7/2025), juru bicara Fraksi Golkar, Andi Satya Adi Saputra, menyampaikan bahwa kasus-kasus pencemaran yang terus berulang mencerminkan lemahnya pengawasan dan buruknya tata kelola lingkungan hidup.

“Pencemaran di Sungai Lawang, perubahan warna di Sungai Jembayan, temuan mikroplastik di Mahakam, hingga tumpahan minyak di Teluk Balikpapan tahun 2018—semua ini bukan sekadar insiden teknis, tapi cerminan sistem yang rapuh,” tegas Andi.

Ia juga menyinggung kebocoran sumur minyak milik Pertamina di Sanga-Sanga yang terjadi pada April 2025, yang sempat mencemari sumber air warga. Menurutnya, insiden semacam itu seharusnya tidak terjadi jika pengawasan berjalan sesuai prosedur.

“Kita bicara tentang keselamatan masyarakat dan keberlanjutan ekosistem. Ini bukan urusan kecil,” ujarnya.

Tak hanya itu, Fraksi Golkar juga menyoroti data deforestasi sepanjang 2024 yang mencapai lebih dari 44 ribu hektar. Angka ini dinilai mengkhawatirkan karena menunjukkan bahwa degradasi lingkungan terus berlangsung secara masif, meskipun berbagai regulasi sudah ada.

Andi menegaskan bahwa Raperda yang kini tengah dibahas harus menjadi tonggak perubahan nyata, bukan sekadar dokumen pelengkap.

“Kita butuh regulasi yang tegas, operasional, dan berpihak pada kelestarian lingkungan. Bukan formalitas atau basa-basi hukum,” katanya.

Fraksi Golkar berharap agar Raperda ini benar-benar dirancang dengan pendekatan responsif, mengacu pada fakta lapangan, serta memperkuat peran pengawasan, sanksi, dan keterlibatan masyarakat.

“Kalau tidak, kita akan terus terjebak dalam lingkaran pencemaran dan perusakan lingkungan yang tak kunjung selesai,” tutupnya. (W/ADV/SR).