AdvertorialDPRD KALTIM

Komisi IV DPRD Kaltim Kecewa, Kunjungan ke Pabrik Semen Raksasa di Kaliorang Tak Temui Titik Terang

wartapedia.co.id, SAMARINDA – Perjalanan panjang selama 9 jam dari Samarinda menuju Kaliorang, Kutai Timur, ternyata tidak membuahkan hasil memuaskan bagi rombongan Komisi IV DPRD Kalimantan Timur. Kunjungan kerja yang sedianya ingin menggali informasi langsung dari manajemen PT Kobexindo Cement, justru berakhir dengan kekecewaan.

Bukannya bertemu dengan jajaran direksi atau pengambil kebijakan utama, rombongan hanya disambut oleh seorang perwakilan perusahaan yang menjabat sebagai Asisten General Manager, Mr. Jin Hui Long  yang bahkan tidak fasih berbahasa Indonesia. Setiap percakapan harus diterjemahkan terlebih dahulu, membuat komunikasi berjalan kaku dan minim esensi.

“Kami datang jauh-jauh bukan untuk bertemu orang yang tidak bisa memberikan jawaban konkret. Ini menyangkut tanggung jawab lingkungan dan sosial perusahaan, bukan hal sepele,” ujar Darlis Pattalongi, Sekretaris Komisi IV DPRD Kaltim yang memimpin kunjungan tersebut.

Kedatangan Komisi IV sebenarnya bertujuan untuk meninjau langsung pelaksanaan tanggung jawab sosial, keselamatan kerja, serta perlindungan lingkungan hidup yang menjadi kewajiban perusahaan sejak mulai beroperasi pada Agustus 2023. Namun, sayangnya, informasi yang diharapkan justru tidak didapatkan.

Alhasil, Komisi IV meminta agar jajaran direksi PT Kobexindo Cement hadir langsung ke Gedung DPRD Kaltim dalam rapat resmi berikutnya. Mereka diminta membawa seluruh dokumen penting seperti laporan AMDAL, data ketenagakerjaan, hingga realisasi program pemberdayaan masyarakat.

Isu utama yang menjadi sorotan DPRD bukan hanya komunikasi yang tersendat, tetapi juga lokasi pabrik yang berada di kawasan karst Sangkulirang–Mangkalihat, salah satu bentang alam paling sensitif di Kalimantan Timur.

“Ini bukan wilayah biasa. Kawasan karst itu penyimpan air alami bagi Kutim, Berau, hingga Bontang. Kalau rusak, efeknya bisa krisis air untuk masa depan,” tegas Darlis.

Menurut kajian akademis, kawasan karst ini memiliki resistivitas rendah  indikator bahwa kawasan tersebut sangat penting sebagai sumber air bawah tanah. Maka, aktivitas industri berskala besar seperti tambang batu gamping dan pabrik semen menimbulkan kekhawatiran serius. (W/ADV/SR).