AdvertorialDPRD KALTIM

Maratua Terancam Krisis Ekologi dan Akses, DPRD Kaltim Desak Penyesuaian Pola Pembangunan

wartapedia.co.id, SAMARINDA – Kekhawatiran terhadap masa depan Pulau Maratua, Kabupaten Berau, kembali mencuat. Anggota DPRD Kalimantan Timur, Syarifatul Syadiah, menilai pendekatan pembangunan di wilayah kepulauan perlu segera dievaluasi agar tidak terjebak pada pola daratan yang tak relevan. Jika tidak, potensi wisata dan posisi strategis Maratua sebagai pulau perbatasan akan terus terkunci dalam keterbatasan.

“Pulau kecil seperti Maratua punya karakter berbeda. Kita tidak bisa menyamakan kebijakan infrastrukturnya dengan wilayah daratan luas. Jika tidak disesuaikan, dampaknya fatal, baik dari sisi lingkungan maupun sosial,” ujar Syarifatul, Jumay (25/7/2025).

Sorotan Syarifatul muncul usai tinjauan langsung ke beberapa kampung di Maratua, khususnya di Payung-Payung dan Teluk Harapan. Ia menyebut, abrasi pantai telah menjadi ancaman nyata yang belum mendapat respons serius. Di sejumlah titik, garis pantai terus terkikis tanpa perlindungan, bahkan mengancam permukiman warga.

“Abrasi bukan cuma soal kehilangan daratan. Ini soal kehilangan ruang hidup, identitas, dan ekosistem pesisir. Maratua butuh perlindungan berbasis konservasi yang nyata,” tegasnya.

Lebih lanjut, Syarifatul juga menyinggung minimnya akses jalan yang layak di Maratua. Ia menyayangkan belum adanya progres berarti, terutama di wilayah-wilayah yang justru memiliki potensi wisata tinggi.

“Coba bayangkan, satu-satunya jalan di Teluk Harapan hanya disemen 10 meter dan kondisinya rusak. Itu satu-satunya akses menuju spot pemancingan dan potensi ekonomi warga,” ungkapnya prihatin.

Menurutnya, kondisi ini menunjukkan kegagalan perencanaan jangka panjang yang belum memperhitungkan konteks kepulauan secara utuh. Ia pun menekankan pentingnya distribusi pembangunan yang adil antar kampung, bukan hanya terpusat di lokasi tertentu.

“Maratua bukan hanya Teluk Harapan atau Bidukbiduk. Kalau pembangunan tidak merata, maka disparitas internal di pulau ini sendiri akan makin melebar,” ujarnya.

Syarifatul mendorong Pemerintah Kabupaten Berau dan Pemerintah Provinsi Kaltim untuk segera menyusun desain pembangunan kepulauan yang holistik. Ia menilai, jika penanganan abrasi dan pembangunan akses jalan terus tertunda, maka bukan hanya sektor wisata yang terdampak, tetapi juga ketahanan sosial-ekonomi warga.

“Kita butuh keseriusan. Jangan hanya datang membawa simbol perhatian. Harus ada peta jalan khusus untuk Maratua, dengan skala prioritas berdasarkan urgensi, bukan hanya popularitas,” tutupnya. (W/ADV/SR).