AdvertorialDPRD Kukar

Sugeng Hariadi Minta Pemulihan Trauma Santri dan Pencegahan Kasus Pelecehan Terulang

wartapedia.co.id, Kutai Kartanegara – Rapat Dengar Pendapat (RDP) Komisi IV DPRD Kutai Kartanegara (Kukar) terkait dugaan pelecehan seksual yang terjadi di salah satu pondok pesantren di Kecamatan Tenggarong Seberang turut diwarnai pernyataan tegas dan emosional dari Anggota DPRD Kukar Komisi I, Sugeng Haryadi.

Sugeng yang berasal dari Dapil II mengaku sangat terpukul dengan peristiwa ini. Ia menilai pondok pesantren yang seharusnya menjadi cermin pendidikan, justru kini mengalami keretakan citra yang sulit diperbaiki.

“Saya secara pribadi malu. Seandainya ini kaca dan ini sudah retak, maka malu dulu Dapil II ini dijadikan cermin, pondok ini cermin tujuan orang untuk mendidik anaknya. Tapi sekarang sudah retak itu sudah nggak mungkin dikembalikan lagi,” ujarnya.

Politikus PDI Perjuangan ini menekankan, meski keputusan akhir terkait nasib pondok pesantren tersebut berada di ranah Komisi IV dan pihak terkait lainnya, ia berharap semua pihak bisa menyikapi persoalan ini dengan hati yang jernih serta pertimbangan yang matang.

“Kalau saya pribadi, akan saya serahkan kepada bidangnya masing-masing. Tetapi saya berharap kepada semua pihak yang ada di sini bisa mensikapi dengan sebuah perasaan hati dan sikap yang benar. Jangan terbawa hanya oleh kesepakatan sesaat, tapi landasi dengan penilaian yang cermat,” tambahnya.

Lebih lanjut, Sugeng menegaskan, meskipun pondok tidak ditutup secara resmi, citra lembaga tersebut sudah hancur di mata masyarakat. Hal itu terbukti dengan banyaknya orang tua yang menarik anak mereka dari pondok tersebut.

“Meski pondoknya nggak ditutup pun, pondoknya sudah malu. Itu hukumnya lebih berat karena orang tua murid sudah menarik keluar anak-anaknya. Yang saya harapkan, citra Dapil saya bisa dikembalikan lagi, itu harapan saya. Jangan sampai tempat mendidik anak malah menjadikan sengsara,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, dia juga menyampaikan permintaan khusus kepada tim psikolog dan pendamping anak agar fokus pada pemulihan kondisi psikologis para korban. Ia menilai, penyembuhan trauma menjadi prioritas utama sebelum mengambil langkah kebijakan lebih lanjut.

“Saya berharap kepada Pak Psikolog nanti, untuk anak-anak kami yang saat ini mengalami trauma, tolong segera dipulihkan. Pertama dipulihkan dulu hatinya, secara psikis, secara pemikirannya, sehingga mereka bisa kembali seperti semula,” tegasnya.

Sugeng menutup pernyataannya dengan ajakan kepada semua pihak untuk menjadikan kasus ini sebagai pelajaran penting agar tidak pernah terulang di masa depan.

“Saya harap segera diadakan pencegahan, jangan terulang lagi kejadian yang seperti ini. Mari kita selesaikan dengan hati dan kebersamaan,” pungkasnya. (W/ADV/JS)