wartapedia.co.id, Kutai Kartanegara – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kutai Kartanegara (Kukar), Muhammad Idham, menyoroti serius kasus dugaan pelecehan terhadap santri yang dilakukan oleh seorang oknum ustaz di salah satu pondok pesantren di Kukar.
Dari laporan yang beredar, kasus ini diduga menimpa sedikitnya tujuh korban dengan rentang waktu kejadian sejak Februari 2024 hingga Juli 2025.
Politikus PKS ini menegaskan, persoalan ini tidak bisa dibiarkan begitu saja, mengingat dampaknya sangat besar, baik terhadap para korban maupun terhadap reputasi lembaga pendidikan pesantren itu sendiri.
“Artinya ini harus segera ditindaklanjuti oleh Dinas DP3A. Kami di Komisi IV akan memanggil dan memastikan apakah dinas terkait sudah bergerak atau belum. Saya juga sudah mencoba menghubungi pihak-pihak terkait untuk mendapat kejelasan,” ungkapnya pada Rabu (13/8/2025).
Menurutnya, kasus dugaan pelecehan di lingkungan pesantren bukanlah hal sepele. Selain dapat menimbulkan trauma mendalam bagi para korban dan keluarga, hal ini juga bisa meruntuhkan kepercayaan masyarakat terhadap pesantren sebagai lembaga pendidikan berbasis keagamaan.
“Kalau kejadian seperti ini sering terjadi, orang tua bisa trauma untuk memasukkan anak-anaknya ke pesantren. Padahal harapan kita pesantren menjadi tempat utama dalam membina akhlak dan memberikan ilmu yang lengkap,” tegasnya.
Idham juga menuturkan pengalamannya sebagai alumni pondok pesantren, yang menurutnya merupakan lembaga pendidikan dengan kurikulum yang lengkap, baik dalam hal pembinaan moral maupun keilmuan.
Sebagai langkah perbaikan ke depan, Idham menekankan pentingnya transparansi dalam pengelolaan pesantren. Menurutnya, pihak pesantren harus melibatkan orang tua dalam setiap aktivitas dan program yang dijalankan.
“Penekanan dari saya, pondok-pondok ini sebaiknya harus ada keterbukaan. Setiap ada kegiatan apa pun, orang tua harus tahu. Dengan begitu ada kepercayaan dan pengawasan bersama,” ujarnya.
Idham berharap, kasus ini bisa segera ditangani dengan serius oleh aparat penegak hukum dan instansi terkait. Selain itu, ia mendorong adanya mekanisme perlindungan yang lebih kuat bagi santri di seluruh pesantren di Kukar.
“Kita kasihan sekali dengan kejadian seperti ini. Jangan sampai ada korban lain. Pesantren harus kembali menjadi tempat yang aman, nyaman, dan benar-benar mendidik anak-anak kita,” pungkasnya. (W/ADV/JS)




