wartapedia.co.id, BALIKPAPAN – Terganggunya distribusi air bersih ke rumah-rumah warga di kawasan Kampung Buton, Jalan ZA Maulani, Balikpapan Selatan, selama lebih dari 10 hari mendapat sorotan dari DPRD Kota Balikpapan, Kalimantan Timur (Kaltim).
Permasalahan ini bahkan memicu aksi protes warga dari tujuh RT yang turun melakukan penutupan jalan akibat belum normalnya pasokan air dari Perumda Tirta Manuntung Balikpapan (PTMB).
Diwawancarai awak media, Wakil Ketua DPRD Kota Balikpapan, Budiono, mengaku prihatin atas kondisi yang dialami warga. Ia menilai respons layanan pelanggan PTMB belum mampu menjawab keresahan masyarakat yang sudah berhari-hari kesulitan mendapatkan air bersih.
“Kalau memang ada kebocoran pipa atau gangguan distribusi, masyarakat tentu bisa memahami. Tetapi yang menjadi persoalan adalah jawaban dari call center PDAM dinilai tidak memberikan kepastian dan solusi yang jelas,” ujar Budiono, Rabu (24/6/2026).
Menurut Budiono, penanganan persoalan tidak cukup hanya dengan penjelasan teknis kepada pelanggan. PTMB diminta segera mengambil langkah nyata agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama proses perbaikan berlangsung.
Ia menyarankan agar perusahaan daerah tersebut segera menyalurkan bantuan air bersih menggunakan mobil tangki ke wilayah-wilayah terdampak.
“Solusi sementara yang paling memungkinkan adalah distribusi air bersih menggunakan mobil tangki ke setiap RT agar warga tetap bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari,” katanya.
Selain itu, Budiono juga meminta PTMB menyiapkan langkah antisipasi apabila proses perbaikan jaringan memerlukan waktu lebih lama dari perkiraan.
“Kalau perbaikannya belum bisa selesai dalam waktu dekat, tentu harus ada alternatif lain. Yang penting masyarakat tetap mendapat akses air bersih dan merasa diperhatikan,” ucapnya.
Berdasarkan informasi yang diterima DPRD Balikpapan, PTMB saat ini masih melakukan penelusuran terhadap titik kebocoran pipa yang diduga menjadi penyebab terganggunya distribusi air di kawasan tersebut.
“Informasinya masih dilakukan pencarian titik kebocoran dengan mempersempit area yang dicurigai rusak sebelum dilakukan perbaikan,” jelas Budiono.
Tak hanya distribusi air bersih, DPRD juga mengusulkan adanya kompensasi bagi pelanggan yang terdampak, salah satunya melalui keringanan pembayaran rekening air.
“Mungkin bisa diberikan bantuan distribusi air tangki atau potongan pembayaran rekening. Jangan sampai persoalan ini terus berlarut hingga memicu gejolak di masyarakat,” tegasnya.
Sebelumnya, ratusan warga dari dua kelurahan, yakni Sungai Nangka dan Damai Bahagia, menggelar aksi penutupan Jalan ZA Maulani sebagai bentuk protes terhadap terhentinya layanan air bersih selama kurang lebih 10 hari.
Aksi yang diikuti lebih dari 250 warga itu melibatkan masyarakat RT 21, RT 22, RT 23, RT 24, dan RT 44 Kelurahan Sungai Nangka, serta RT 41 dan RT 42 Kelurahan Damai Bahagia.
Dalam aksi tersebut, warga membawa berbagai peralatan rumah tangga seperti ember, panci, gentong, hingga botol bekas air mineral sebagai simbol krisis air yang mereka alami.
Warga mengaku kecewa karena berbagai upaya komunikasi dengan pihak PTMB belum membuahkan hasil yang memuaskan. Mereka berharap distribusi air bersih dapat segera kembali normal agar aktivitas sehari-hari masyarakat tidak terus terganggu. (W/ADV/SR)




