wartapedia.co.id, Samarinda – Anggota Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menyoroti masih rendahnya minat baca masyarakat. Ia menilai bahwa budaya literasi di Kota Tepian belum menjadi kebiasaan yang kuat, meskipun data menunjukkan adanya peningkatan.
Mengacu pada data Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Samarinda, Tingkat Gemar Membaca (TGM) warga tercatat sebesar 69,46 poin pada 2023–2024 dan meningkat menjadi 71,04 poin pada 2024–2025. Meski mengalami kenaikan, Puji menilai angka tersebut belum cukup signifikan.
“Minat baca masih tergolong rendah. Pemerintah perlu memberikan contoh langsung tentang pentingnya literatur sebagai sumber utama pengetahuan,” ujar Puji, Senin (21/7/2025).
Ia mendorong Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda untuk berani melakukan terobosan nyata guna menarik minat baca warga. Termasuk mempertimbangkan regulasi khusus yang mendukung kerja Organisasi Perangkat Daerah (OPD) terkait.
“Regulasi penting agar OPD bisa bergerak secara struktural dan mencari ide-ide segar. Tanpa dukungan regulasi, inovasi akan sulit dijalankan secara maksimal,” paparnya.
Puji juga menyoroti keterbatasan anggaran yang dihadapi Dinas Perpustakaan dan Kearsipan (Dispusip) Kota Samarinda. Menurutnya, efisiensi anggaran dari pemerintah pusat membuat program-program literasi tidak berjalan optimal.
“Banyak program terhambat karena minimnya anggaran. Ini membuat dinas menjadi stagnan dan tidak bisa melakukan inovasi. Kalau begini terus, bagaimana kita bisa mencetak SDM unggul di Samarinda?” tegasnya.
Namun demikian, ia menekankan bahwa peningkatan literasi bukan hanya tanggung jawab pemerintah semata. Masyarakat juga harus menyadari pentingnya budaya membaca sebagai fondasi kemajuan sumber daya manusia.
“Literatur adalah fondasi SDM unggul. Kalau masyarakat tidak peduli terhadap buku dan wawasan, bagaimana kita bisa melahirkan generasi berprestasi?” pungkas Puji. (W/ADV/SR)




