wartapedia.co.id, SAMARINDA – Wakil Ketua Komisi IV DPRD Kota Samarinda, Sri Puji Astuti, menanggapi meningkatnya jumlah laporan kasus kekerasan di kota ini dengan pandangan yang berbeda.
Menurutnya, tingginya angka tersebut bukan semata menunjukkan kondisi memburuk, tetapi bisa menjadi indikator bahwa masyarakat mulai berani bersuara.
“Justru ini pertanda kesadaran mulai tumbuh. Masyarakat tidak lagi diam ketika mengalami kekerasan, dan ini perkembangan positif,” ujarnya, Senin (19/5/2025).
Namun demikian, Sri Puji menegaskan bahwa keberanian warga melapor harus diikuti dengan penanganan yang cepat dan tepat. Ia mengingatkan, tanpa penyelesaian, kasus-kasus tersebut hanya akan menumpuk dan berpotensi menimbulkan persoalan yang lebih besar di kemudian hari.
“Kalau tidak ditindaklanjuti dengan baik, ini bisa jadi bom waktu. Jangan sampai masyarakat sudah berani bicara, tapi negara tak hadir memberikan perlindungan,” katanya.
Ia juga menyoroti pentingnya edukasi publik. Menurutnya, regulasi dan sistem saja tidak cukup jika masyarakat belum memahami hak dan perlindungan yang tersedia bagi mereka.
“Regulasinya ada, mekanismenya juga ada. Tapi kalau warga tidak paham, sistem itu tidak akan berjalan maksimal,” jelasnya.
Sri Puji menambahkan, salah satu elemen penting dalam sistem perlindungan korban adalah keberadaan rumah aman yang memadai.
Ia menyebut rumah aman seharusnya memiliki standar yang tinggi—terkoneksi dengan layanan pendampingan, berada di lingkungan yang aman, serta diawasi oleh tenaga profesional.
“Rumah aman harusnya seperti fasilitas kesehatan, ada pengawasan, pengamanan, dan kemudahan akses untuk korban. Itu bentuk tanggung jawab kita,” tegasnya.
Ia memastikan Komisi IV DPRD Samarinda akan terus mendorong perbaikan layanan perlindungan terhadap korban kekerasan dan memastikan bahwa setiap laporan ditindaklanjuti secara serius. (W/ADV/Rangga)




