AdvertorialDiskominfo Kukar

Dinkes Kukar Ingatkan Bahaya Konsumsi Gula Berlebih, 25.520 Kunjungan Diabetes Tercatat hingga September

wartapedia.co.id, Tenggarong – Dinas Kesehatan (Dinkes) Kutai Kartanegara (Kukar) mengingatkan masyarakat untuk mengendalikan konsumsi gula, lemak, minyak, dan karbohidrat dalam makanan maupun minuman sehari-hari. Kebiasaan mengonsumsi minuman manis seperti es teh, jus dengan tambahan susu hingga boba dinilai perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan risiko diabetes melitus.

Kepala Dinkes Kukar Ismi Mufidah mengatakan, pencegahan diabetes tidak hanya berkaitan dengan faktor keturunan. Pola konsumsi masyarakat juga menjadi salah satu perhatian, terutama makanan dan minuman dengan kandungan gula yang tinggi.

“Jangan berpikir gula itu hanya didapat pada gula. Makanan, nasi misalnya, itu ada kandungan gulanya. Karbohidratnya juga ada kandungan gulanya. Yang lain juga ada. Jadi dapat gula itu tidak sekadar dari gula,” kata Ismi.

Menurutnya, minuman yang dikonsumsi sehari-hari juga perlu diperhatikan. Es teh, misalnya, umumnya menggunakan tambahan gula untuk mempertahankan rasa manis setelah bercampur dengan es.

Begitu pula jus buah yang kerap dianggap sebagai pilihan sehat. Kandungan tambahan seperti susu maupun pemanis justru perlu diperhatikan karena dapat meningkatkan asupan gula.

“Boba, jus pun yang katanya jus sehat karena itu buah, tapi ditambah susu. Nah, itu yang membuat tidak sehat,” ujarnya.

Ismi menyarankan masyarakat memilih buah secara langsung jika ingin mengonsumsi buah, dibandingkan minuman olahan yang mendapat tambahan pemanis atau bahan lainnya.

“Kalau mau minum atau makan buah, mungkin itu yang lebih sehat, karena tambahannya tidak sehat,” jelasnya.

Ia menekankan, masyarakat yang terbiasa mengonsumsi minuman manis tidak harus langsung menghentikannya. Pengurangan gula dapat dilakukan secara bertahap, termasuk ketika membeli minuman di luar rumah.

“Sekali-sekali boleh, tapi tetap harus dikurangi gulanya,” katanya.

Peringatan tersebut disampaikan karena diabetes melitus dapat menimbulkan berbagai komplikasi apabila tidak dikendalikan. Ismi menyebut komplikasi dapat menyerang sejumlah organ tubuh, termasuk jantung, ginjal, dan mata, serta berisiko menyebabkan kecacatan.

“Kalau kamu kena diabetes melitus, maka bisa terjadi komplikasi ke jantung, komplikasi ke ginjal, komplikasi pada mata. Juga bisa menyebabkan kecacatan,” tegasnya.

Beban pelayanan diabetes di Kukar juga masih cukup tinggi. Sepanjang Januari hingga September 2026, tercatat 25.520 kunjungan terkait diabetes di puskesmas. Jumlah tersebut belum termasuk pelayanan yang dilakukan di rumah sakit.

Ismi mengatakan, diabetes juga tidak lagi hanya ditemukan pada kelompok lanjut usia. Kelompok usia 18–59 tahun tercatat sebagai kelompok dengan jumlah tertinggi, sementara kelompok usia 60 tahun ke atas menyumbang sekitar 35 persen. Bahkan, terdapat 69 kasus pada kelompok usia 5–18 tahun.

Kondisi tersebut membuat edukasi mengenai pola makan dan minum sehat perlu dilakukan sejak usia dini. Menurut Ismi, tantangannya adalah masyarakat lebih mudah menemukan makanan dan minuman dengan kandungan gula, lemak, dan minyak tinggi dibandingkan pilihan makanan sehat.

“Makanan dan minuman yang sehat pasti harus sekarang. Itu susah kita temui yang jualan. Yang lebih mudah ditemukan yang tinggi gula, tinggi lemak, tinggi minyak,” ungkapnya.

Ia mencontohkan makanan kukusan yang dahulu cukup mudah ditemukan sebagai pilihan sarapan. Namun, makanan tersebut kini semakin jarang dijual karena dinilai kurang diminati masyarakat.

“Dulu agak banyak. Pagi-pagi sarapan orang jualan kukusan. Kukusan itu agak banyak, tapi sekarang hilang lagi. Tidak ada lagi, mungkin karena tidak laku,” katanya.

Karena itu, Dinkes Kukar mendorong edukasi mengenai pola konsumsi sehat terus diperkuat. Masyarakat juga diimbau lebih memperhatikan kandungan gula dalam makanan dan minuman serta menguranginya secara bertahap. (W/ADV/S)