wartapedia.co.id, SAMARINDA – Sebagai bagian dari keluarga besar Universitas Mulawarman, saya melihat polemik yang terjadi dalam proses Pemilihan Rektor bukan sekadar persoalan siapa yang menang dan siapa yang kalah. Ini menyangkut wajah, marwah, dan masa depan kampus yang kita cintai bersama.
Kontestasi dalam pemilihan rektor adalah hal yang wajar dalam kehidupan akademik. Perbedaan pilihan, perbedaan pandangan, bahkan dinamika yang cukup keras merupakan konsekuensi dari sebuah proses demokrasi di lingkungan perguruan tinggi.
Namun, ketika proses kontestasi telah selesai, ada satu hal yang semestinya kita pahami bersama: jangan biarkan riak politik pemilihan rektor berubah menjadi gelombang konflik yang menyeret Universitas Mulawarman terlalu jauh.
Saya secara pribadi berpandangan bahwa pihak yang sebelumnya memegang amanah sebagai petahana, terlebih setelah hasil pemilihan tidak berpihak kepadanya, memiliki posisi moral yang sangat penting untuk membantu menenangkan suasana.
Jika masih terdapat keberatan terhadap proses pemilihan, tentu ada mekanisme dan ruang yang sah untuk menyampaikan keberatan tersebut. Tetapi jangan sampai perbedaan dan kekecewaan dalam kontestasi membuat sivitas akademika terus berada dalam suasana saling curiga dan terbelah.
Kita harus ingat, Universitas Mulawarman jauh lebih besar daripada kepentingan siapa pun yang sedang berkontestasi. Unmul bukan milik rektor yang sedang menjabat. Unmul bukan milik kandidat yang menang. Unmul juga bukan milik kandidat yang kalah.
Unmul adalah rumah bersama. Rumah bagi mahasiswa yang sedang mengejar cita-cita. Rumah bagi dosen yang mengabdikan ilmunya. Rumah bagi tenaga kependidikan yang menjalankan roda administrasi. Rumah bagi alumni yang membawa nama almamater ke berbagai penjuru negeri. Dan rumah bagi seluruh keluarga besar Universitas Mulawarman.
Karena itu, saya berharap seluruh pihak, terutama mereka yang memiliki pengaruh besar di lingkungan kampus, dapat mengambil peran sebagai penyejuk.
Kepada petahana yang telah menyelesaikan masa kontestasinya, saya berharap dapat menunjukkan keteladanan dengan membantu meredam riak yang berkembang. Tidak ada yang lebih terhormat daripada menerima hasil sebuah proses dengan kepala tegak, kemudian memberikan ruang kepada kepemimpinan berikutnya untuk menjalankan amanahnya.
Dan kepada rektor terpilih, saya juga berharap mampu menunjukkan kebesaran hati dengan merangkul semua pihak. Jangan ada dendam politik, jangan ada pembelahan berdasarkan pilihan, dan jangan ada semangat untuk membalas apa yang terjadi selama kontestasi.
Kontestasi boleh selesai. Persaudaraan jangan. Kita boleh berbeda pilihan dalam bilik pemilihan, tetapi setelah keluar dari proses itu, kita tetap satu keluarga besar Universitas Mulawarman.
Sebagai bagian dari keluarga besar Unmul, saya tidak ingin melihat almamater kita sibuk dengan pertarungan yang tidak substantif sementara persoalan yang jauh lebih besar menunggu untuk diselesaikan: kualitas pendidikan, riset, kesejahteraan sivitas akademika, prestasi mahasiswa, kontribusi kampus bagi Kalimantan Timur, serta posisi Universitas Mulawarman di tingkat nasional dan internasional. (*)




