wartapedia.co.id, Tenggarong – Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Disdamkarmatan) Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar) mendorong pengembangan sistem hidran di kawasan permukiman padat sebagai bagian dari mitigasi kebakaran. Kebutuhan tersebut dinilai penting, terutama di wilayah yang memiliki risiko kebakaran tinggi seperti kawasan Danau Aji, Tenggarong.
Kepala Disdamkarmatan Kukar, Fida Hurasani, mengatakan sistem hidran di permukiman tidak dapat dibangun hanya oleh Dinas Pemadam Kebakaran. Perencanaan dan pelaksanaannya membutuhkan koordinasi dengan sejumlah instansi terkait, seperti Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Perkim), Dinas Pekerjaan Umum (PU), hingga perusahaan air minum.
“Ya, harus. Kalau saya bilang, hidran itu harus. Tapi Damkar dalam hal ini, Dinas Damkar, tidak bisa bergerak sendiri,” kata Fida saat berada di lokasi kebakaran RT 33, Kelurahan Melayu, Tenggarong, Selasa (6/10/2026).
Menurutnya, Damkarmatan selama ini telah melakukan langkah mitigasi secara mandiri melalui pemasangan hidran kering. Namun, penggunaannya masih terbatas untuk membantu memperpendek jarak pengisian ulang air ketika terjadi kebakaran.
Fida menyebut hidran kering yang telah dibangun sebelumnya mencapai sekitar satu kilometer hingga kawasan Simpang Tiga Kartini. Dari hasil evaluasi, fasilitas tersebut dinilai berfungsi sesuai dengan perencanaan.
“Tahun kemarin hidran kering sudah sampai satu kilometer. Ke depan kita mau hidran kering itu masuk di kawasan permukiman ini,” ujarnya.
Fida menjelaskan, kebutuhan sistem hidran semakin terlihat dari kendala sumber air saat penanganan kebakaran. Dalam kejadian sebelumnya, petugas harus mengantre untuk mengisi ulang tangki karena sumber air berada di titik tertentu.
“Untuk menuju wilayah tengah, wilayah saya di Kelambu Kuning, saya harus mengantri untuk mengisi. Artinya butuh waktu 10, 15 sampai 20 menit. Nah, itu yang terjadi kemarin,” jelasnya.
Dalam sekitar 30 menit penanganan, tiga tangki dengan kapasitas masing-masing 6.000 liter, 14.000 liter dan 10.000 liter telah digunakan. Dua bangunan yang menjadi titik awal kebakaran sebenarnya sudah dapat ditekan, namun saat petugas melakukan pengisian ulang, perubahan arah angin membuat api kembali membesar.
Menurut Fida, kondisi tersebut menunjukkan bahwa sumber air menjadi salah satu titik lemah dalam penanganan kebakaran.
“Dari penilaian pekerjaan dan tugas, berarti kita ada titik lemahnya di mana? Artinya kembali kepada sumber air,” katanya.
Ia menjelaskan, sistem hidran juga tidak cukup hanya dengan menentukan titik pemasangan. Jika sistem tersebut terhubung dengan jaringan perusahaan air minum, terdapat persoalan tekanan air dan kontinuitas pasokan.
Fida mengatakan peningkatan tekanan air secara berlebihan juga dapat berdampak terhadap jaringan rumah tangga. Di sisi lain, kondisi pasokan air yang bergilir maupun gangguan listrik dapat memengaruhi ketersediaan air untuk sistem pemadaman.
Karena itu, menurutnya, idealnya hidran untuk proteksi kebakaran permukiman memiliki sistem pendorong sendiri dan tidak sepenuhnya bergantung pada jaringan perusahaan air minum.
“Proteksi kebakaran permukiman itu punya pendorong sendiri. Jadi, dia tidak ikut dengan perusahaan air minum, dia punya sistem sendiri,” ungkapnya.
Namun, pembangunan sistem tersebut membutuhkan anggaran yang besar sehingga pelaksanaannya tidak mudah dilakukan secara cepat.
Untuk mitigasi jangka pendek, Damkarmatan memilih mengembangkan hidran kering dan menempatkan tandon air di sejumlah titik. Dua tandon berkapasitas masing-masing 5.000 liter telah ditempatkan di kawasan tersebut sehingga tersedia cadangan air sekitar 10.000 liter.
Fida menyebut penempatan tandon juga menghadapi kendala karena keterbatasan ruang di kawasan permukiman. Beberapa tandon dapat ditempatkan karena adanya dukungan warga, tetapi keberadaannya tetap harus mempertimbangkan akses dan aktivitas masyarakat.
“Tempatnya tidak ada. Ada beberapa warga yang memang, karena ada hubungan emosional, baru saya bisa menempatkan kapasitas tandon 5.000 liter di kawasannya,” ujarnya.
Selain infrastruktur, Fida menilai keterlibatan masyarakat dan pengurus RT penting dalam mitigasi kebakaran. Damkarmatan membutuhkan kerja sama dengan RT setempat untuk menentukan langkah mitigasi yang sesuai dengan kondisi lingkungan.
Kawasan Danau Aji sendiri disebut sebagai salah satu wilayah dengan tingkat risiko kebakaran tinggi di Kecamatan Tenggarong. Fida menggambarkannya sebagai kawasan berbentuk segitiga yang memiliki tiga poros jalan utama, yakni Jalan Danau Aji, Jalan Alimudin dan Jalan Danau Lipan.
“Kawasan segitiga yang label-nya paling merah. Paling merah untuk Kecamatan Tenggarong itu ada di kawasan Danau Aji,” katanya.
Menurut Fida, keberadaan tiga poros jalan tersebut belum sepenuhnya memberikan pandangan strategis apabila kebakaran terjadi di bagian tengah permukiman. Kondisi tersebut kembali berkaitan dengan keterbatasan akses dan sumber air.
“Karena sumber air kita tidak ketemu,” tegasnya.
Ke depan, Damkarmatan akan mengembangkan mitigasi melalui hidran kering di kawasan permukiman dengan tetap mempertimbangkan kondisi lapangan. Fida menegaskan pembangunan fasilitas tersebut perlu didukung lintas instansi dan masyarakat agar sistem proteksi kebakaran dapat berjalan secara efektif.
“Kalau kita bicara masalah hidranisasi, ya kita kembali kepada itu,” pungkasnya. (W/ADV/S)









