AdvertorialDPRD KALTIM

Festival Budaya Dinilai Bisa Jadi Sarana Edukasi Sosial, DPRD Kaltim Soroti Pudarnya Nilai Gotong Royong

wartapedia.co.id, SAMARINDA – Di tengah derasnya arus modernisasi, nilai-nilai kolektif seperti gotong royong dinilai semakin terpinggirkan. Anggota Komisi II DPRD Kalimantan Timur, Guntur, menekankan pentingnya menghidupkan kembali semangat kebersamaan tersebut, terutama melalui momentum budaya seperti Festival Jembayan Kampung Tuha (FJKT) di Kutai Kartanegara.

Menurut Guntur, festival budaya tidak seharusnya hanya diposisikan sebagai hiburan atau atraksi wisata semata. Ia menilai, di balik kemeriahan, tersimpan peluang besar untuk membangun kesadaran sosial dan memperkuat solidaritas antarwarga, terutama di tingkat pedesaan.

“Gotong royong bukan sekadar tradisi lama. Ia adalah fondasi sosial masyarakat kita. Dulu semua dikerjakan bersama: membangun rumah, panen, bahkan hajatan. Tapi sekarang, nilai itu makin luntur, digantikan oleh individualisme,” ujarnya.

Ia menilai, menguatnya pola hidup transaksional dan minimnya interaksi antarwarga menjadi tantangan nyata dalam menjaga kohesi sosial. Untuk itu, Guntur mengajak penyelenggara festival agar tidak hanya fokus pada hiburan, tetapi juga memperkaya agenda budaya dengan muatan edukatif yang membangkitkan kesadaran kolektif.

“FJKT harus jadi ruang belajar sosial, bukan hanya tontonan. Ada nilai-nilai sejarah dan kebersamaan yang bisa diangkat kembali agar generasi muda tidak tercerabut dari akar budayanya,” tegasnya.

Politikus PDI Perjuangan ini juga menegaskan bahwa pelestarian nilai gotong royong bukan hanya tugas masyarakat adat atau tokoh budaya, tetapi juga harus didukung oleh kebijakan pemerintah. Ia mendorong agar agenda-agenda budaya lokal mendapat ruang dalam kurikulum pendidikan nonformal dan kegiatan sosial kemasyarakatan.

“Kalau generasi muda hanya diajarkan bersaing dan individualistis, kita kehilangan daya ikat sebagai bangsa. Melalui budaya, kita bisa pulihkan itu,” pungkasnya (W/ADV/SR).