AdvertorialDPRD PPU

DPRD PPU Soroti Ketidakteraturan Petani Sawit yang Bikin Harga TBS Mudah Dimainkan

wartapedia.co.id, Penajam – Gejolak harga Tandan Buah Segar (TBS) kembali menjadi perhatian legislatif di Penajam Paser Utara (PPU). Wakil Ketua I DPRD PPU, Syahrudin M Noor, menilai fluktuasi harga yang kerap merugikan petani sawit rakyat terjadi karena mereka tidak memiliki kekuatan kolektif.

Ketidakteraturan ini membuat posisi tawar petani lemah dan membuka ruang bagi Pabrik Kelapa Sawit (PKS) untuk mengatur harga seenaknya.

Berbicara mengenai kondisi di lapangan, Syahrudin menyampaikan bahwa banyak petani sawit di PPU beroperasi secara mandiri tanpa keanggotaan kelompok tani, kelembagaan formal, ataupun sistem pendataan. Situasi ini membuat mereka tidak memiliki akses ke perlindungan harga maupun intervensi pemerintah.

“Sekarang muncul gejolak karena mereka tidak terorganisir. Fluktuasi harga bisa saja dimainkan oleh para pemilik Pabrik Kelapa Sawit (PKS),” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa perbedaan harga TBS antara daerah penghasil sawit di Indonesia menunjukkan betapa lemahnya posisi petani ketika industri tidak diimbangi oleh kelembagaan yang kuat.

Di daerah yang petaninya sudah terorganisir—termasuk di sebagian wilayah Sumatera harga jauh lebih stabil karena kelompok petani memiliki struktur, data, dan perjanjian kemitraan yang lebih jelas.

Sementara di PPU, petani kecil kerap bergantung pada pengepul dan tidak memiliki rujukan harga yang kuat. Akibatnya, petani menjadi pihak paling terdampak ketika harga turun drastis.

“Contohnya, di Sumatera harga Tandan Buah Segar (TBS) bisa Rp3.000, sementara di sini sempat Rp1.000 bahkan di bawah itu,” tambah Syahrudin. (W/ADV/SR)