wartapedia.co.id, SAMARINDA – Di tengah arus digitalisasi dan derasnya pengaruh budaya populer yang kerap menggerus nilai-nilai luhur, ruang pembinaan karakter berbasis agama semakin langka. Dalam konteks inilah, pelaksanaan Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) ke-45 Tingkat Provinsi Kalimantan Timur di Kutai Timur dinilai menjadi jawaban strategis untuk menjawab kekosongan tersebut.
Anggota DPRD Kaltim, Sulasih, menyatakan bahwa MTQ bukan sekadar ajang kompetisi tilawah, tetapi menjadi platform penting untuk memulihkan orientasi moral generasi muda. Ia menyoroti makin minimnya wadah pembinaan etika sosial dan spiritual, khususnya bagi kalangan remaja di era yang serba instan.
“Kita menghadapi krisis identitas nilai. Di sinilah MTQ berperan sebagai ruang alternatif pembinaan, bukan hanya dalam aspek religiusitas, tapi juga karakter dan mentalitas kebangsaan,” kata Sulasih saat menghadiri malam penutupan MTQ di Kutim, akhir pekan lalu.
Ia menambahkan, DPRD Kaltim memandang kegiatan seperti MTQ harus didukung penuh oleh pemerintah daerah sebagai bagian dari investasi sosial jangka panjang. Apalagi, agenda ini mampu menjangkau lintas usia, menghidupkan syiar Islam yang moderat, dan memperkuat kohesi sosial berbasis keimanan.
Sulasih juga mengapresiasi keberhasilan Kabupaten Kutai Timur sebagai tuan rumah. Tidak hanya sukses dalam penyelenggaraan teknis, Kutim juga tampil sebagai juara umum, membuktikan bahwa kesiapan infrastruktur dan partisipasi masyarakat bisa berjalan seiring.
“Sinergi seperti ini harus dilestarikan. Pemerintah kabupaten, tokoh agama, dan DPRD sebagai representasi rakyat harus bergandengan tangan menjaga agar syiar semacam ini tidak sekadar seremonial, tapi menancap dalam kehidupan sosial kita,” ujarnya.
Puncak acara yang turut dimeriahkan dengan penampilan Band Wali menjadi simbol bahwa dakwah bisa dikemas lebih segar dan menjangkau generasi muda tanpa kehilangan esensi.
DPRD Kaltim, lanjut Sulasih, akan terus mendorong regulasi dan penganggaran yang berpihak pada pembangunan karakter masyarakat. Menurutnya, menjaga nilai adalah bagian dari membangun peradaban.
“Kalau kita hanya bicara pembangunan fisik tanpa memperkuat akhlak, maka kita sedang membangun sesuatu yang rapuh. Nilai-nilai Al-Qur’an harus tetap menjadi fondasi utama,” tegasnya.
Melalui dukungan berkelanjutan terhadap agenda-agenda keagamaan, DPRD Kaltim menunjukkan komitmen nyata dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan material dan spiritual di Kalimantan Timur. (W/ADV/SR).




