AdvertorialDiskominfo Kukar

Karhutla di Muara Kaman Hampir Sebulan, Camat Sebut Api Masih Muncul di Bawah Gambut

wartapedia.co.id, Tenggarong – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di wilayah Kecamatan Muara Kaman, Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar), masih terjadi di sejumlah titik. Kondisi tersebut telah berlangsung hampir tiga minggu hingga mendekati satu bulan.

Camat Muara Kaman, Nadi Baswan, mengatakan penanganan karhutla di wilayahnya tidak mudah karena sebagian besar titik kebakaran berada di lahan gambut dengan kedalaman cukup tinggi.

“Kalau kondisi ini sudah berlangsung hampir tiga minggu, bahkan sudah mendekati satu bulan,” kata Nadi saat diwawancarai di Kedaton Kutai Kartanegara, Sabtu (26/9/2026).

Menurutnya, karakter lahan gambut membuat api yang terlihat sudah padam belum tentu benar-benar mati. Bara masih dapat menyala di bawah permukaan dan kembali muncul ketika kondisi mendukung, termasuk saat terbawa angin.

“Kalau lahan gambut, api yang terlihat di atas belum tentu benar-benar padam. Di bawahnya masih bisa menyala. Kalau tidak digali sampai ke bagian bawah, api tidak akan benar-benar mati,” ujarnya.

Nadi menyebut kondisi tersebut terjadi di sejumlah wilayah, seperti Bukit Jering, Muara Siran dan Muhuran. Api yang sempat dipadamkan dapat kembali muncul karena masih terdapat bara di bawah permukaan.

Di Desa Sedulang, misalnya, terdapat sekitar tujuh titik api. Sementara di Rantau Hempang terdapat satu titik besar yang disertai sejumlah titik api kecil.

“Api yang terlihat bukan hanya satu titik karena di bawah permukaan masih ada bara api yang menyebar,” katanya.

Untuk penanganan, Kecamatan Muara Kaman yang memiliki 20 desa membagi wilayah menjadi empat posko. Pembagian tersebut disesuaikan dengan wilayah sungai dan kondisi geografis masing-masing kawasan.

Posko pertama berada di Muara Siran untuk wilayah sungai besar, sedangkan wilayah sungai kecil ditempatkan di Desa Tunjungan. Untuk wilayah atas berada di Desa Bunga Jadi dan wilayah bawah berada di Muara Kaman Ilir.

Nadi mengatakan pembagian posko dilakukan agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat sebelum kebakaran meluas dan mendekati permukiman.

“Jadi sebelum kondisi berkembang lebih besar, penanganan dilakukan terlebih dahulu dari posko-posko tersebut, kemudian kami memberikan bantuan sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Ia mengatakan peralatan yang tersedia sejauh ini relatif mencukupi. Namun, karakter lahan gambut tetap menjadi kendala utama dalam proses pemadaman.

Selain itu, berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah camat, sumber api diduga masih berkaitan dengan aktivitas masyarakat. Meski demikian, ia tidak merinci bentuk aktivitas yang dimaksud.

Dari sisi luasan, Nadi menyebut kebakaran di Bukit Jering sebelumnya mencapai lebih dari 100 hektare lahan gambut. Sementara jika dihitung secara keseluruhan di Kecamatan Muara Kaman, luasan lahan yang terbakar diperkirakan mencapai ribuan hektare.

Namun, angka tersebut belum dapat dipastikan karena titik kebakaran tersebar dan kondisi lahan gambut menyulitkan penghitungan luasan secara menyeluruh.

“Sampai sekarang masih ada. Teman-teman di lapangan masih melakukan pemadaman di beberapa titik,” pungkasnya. (W/ADV/S)