AdvertorialDiskominfo Kukar

Dinkes Kukar Jadikan Inovasi sebagai Budaya untuk Tingkatkan Pelayanan Kesehatan

wartapedia.co.id, Tenggarong – Dinas Kesehatan Kabupaten Kutai Kartanegara (Dinkes Kukar) terus mendorong puskesmas dan rumah sakit mengembangkan inovasi untuk meningkatkan kualitas serta mempermudah pelayanan kesehatan kepada masyarakat. Upaya tersebut tidak hanya dilakukan untuk mengikuti lomba inovasi daerah, tetapi juga diarahkan menjadi bagian dari budaya kerja di lingkungan pelayanan kesehatan.

Kepala Dinas Kesehatan Kukar, Ismi Mufiddah, mengatakan dorongan terhadap inovasi di puskesmas telah dilakukan sejak sebelum pandemi COVID-19. Hingga kini, fasilitas pelayanan kesehatan terus didorong mengembangkan gagasan dan program sesuai kebutuhan masyarakat.

“Sebenarnya, itu sudah sejak lama kami dorong. Kalau tidak salah, bahkan sebelum COVID-19, sebelum 2020, kami sudah mendorong teman-teman puskesmas untuk membuat inovasi,” ujar Ismi saat diwawancarai melalui telepon, Kamis (22/10/2026).

Menurutnya, keterlibatan puskesmas dalam ajang lomba inovasi yang diselenggarakan Badan Riset dan Inovasi Daerah (Brida) menjadi salah satu bentuk pengembangan tersebut. Setiap tahun, terdapat puskesmas yang mengikuti ajang itu secara bergantian dengan inovasi yang disesuaikan dengan program dan kebutuhan pelayanan.

Ia mencontohkan, kegiatan seperti pencanangan desa siaga dapat menjadi ruang bagi fasilitas kesehatan untuk mengembangkan inovasi, termasuk dalam bentuk edukasi kepada masyarakat. Pengembangan inovasi juga berlangsung di lingkungan rumah sakit dan Dinkes Kukar.

Ismi menegaskan, pihaknya berupaya mendukung pengembangan inovasi melalui fasilitasi kebijakan maupun manajerial apabila dibutuhkan oleh fasilitas pelayanan kesehatan. Selain itu, inovasi juga menjadi salah satu aspek yang diperhatikan dalam proses akreditasi.

“Sekarang kami dorong semuanya. Kalau memang membutuhkan fasilitas, kami fasilitasi, baik dari sisi kebijakan maupun manajerial. Inovasi ini memang kami budayakan,” jelasnya.

Ia menilai, keberhasilan inovasi tidak semata-mata diukur dari penghargaan yang diperoleh dalam kompetisi. Hal yang lebih penting adalah manfaat inovasi tersebut terhadap kualitas pelayanan dan kemudahan masyarakat dalam mengakses layanan kesehatan.

“Kalau juara, bagi kami itu bonus. Kalau juara, alhamdulillah. Artinya, inovasi yang digagas itu di mata tim penilai memiliki efek kebaruan dan keberlanjutan,” katanya.

Meski demikian, Ismi menegaskan inovasi yang belum meraih juara tetap dapat memberikan manfaat selama terus dikembangkan. Menurutnya, sejumlah fasilitas kesehatan tetap melanjutkan inovasi yang telah dibuat, bahkan melakukan penyempurnaan setelah mengikuti ajang penilaian.

“Kalaupun tidak mendapat juara meskipun sudah mengikuti ajang inovasi, biasanya mereka tetap melanjutkan. Tetap lanjut, dan biasanya juga ada perkembangan-perkembangan dari inovasi tersebut,” ungkapnya.

Dinkes Kukar berharap budaya berinovasi tersebut terus tumbuh di seluruh fasilitas pelayanan kesehatan. Dengan demikian, pengembangan program tidak berhenti pada kompetisi, tetapi berkelanjutan dan berdampak langsung terhadap peningkatan mutu pelayanan kepada masyarakat. (W/ADV/S)