wartapedia.co.id, Tenggarong – Pemerintah Kelurahan Melayu menyalurkan bantuan kepada korban kebakaran di RT 33. Sebanyak 35 rumah menerima bantuan masing-masing Rp24 juta, sementara warga yang mengontrak atau menyewa rumah mendapatkan kompensasi berdasarkan jumlah pintu.
Lurah Melayu, Muhammad Hafidz, mengatakan penyaluran bantuan dilakukan berdasarkan hasil pendataan terhadap warga terdampak. Dalam penghitungan bantuan, dua kepala keluarga (KK) yang tinggal dalam satu pintu tetap dihitung sebagai satu pintu.
“Sebanyak 35 rumah mendapatkan bantuan, dengan masing-masing rumah memperoleh Rp24 juta. Untuk penyewa atau yang mengontrak, mendapatkan kompensasi saja. Berdasarkan hasil pendataan, apabila dalam satu pintu terdapat dua KK, penghitungannya tetap satu pintu,” ujar Hafidz.
Ia menjelaskan, warga yang mengontrak menerima kompensasi sebesar Rp3,7 juta per pintu. Bantuan tersebut diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan tempat tinggal sementara di lokasi lain.
Selain itu, terdapat empat rumah dengan kategori terdampak ringan yang menerima bantuan sebesar Rp1.761.500. Nominal tersebut merupakan bantuan yang telah disepakati untuk disalurkan pada hari itu.
Hafidz juga menyampaikan bahwa penerimaan donasi logistik dan uang tunai untuk korban kebakaran resmi ditutup pada Jumat pukul 12.00 Wita. Penutupan dilakukan setelah pengumpulan donasi sejak Selasa pascakejadian hingga Kamis.
“Totalnya Rp939.546.000, itu yang kami salurkan hari ini,” katanya.
Terkait rincian jumlah penerima bantuan berdasarkan kategori rumah pribadi maupun penyewa, Hafidz menyebut data tersebut telah tersedia. Namun, ia memilih memastikan kembali data sebelum menyampaikan rincian lebih lanjut agar tidak terjadi kekeliruan.
Di samping penyaluran bantuan, pemerintah kelurahan juga menyiapkan langkah pencegahan untuk mengurangi risiko kebakaran berulang, khususnya di kawasan permukiman padat penduduk.
Hafidz mengatakan, berdasarkan hasil rapat dengar pendapat (RDP), salah satu langkah awal yang disiapkan adalah penempatan tandon air berkapasitas 5.500 liter di sejumlah titik rawan. Selain itu, kegiatan jaga malam juga perlu diaktifkan kembali dan disosialisasikan kepada masyarakat.
Untuk sementara, dua tandon telah ditempatkan di wilayah Kelurahan Melayu. Satu tandon berada di RT 30 yang masuk kawasan rawan kebakaran, sedangkan satu lainnya ditempatkan di RT 3.
Penempatan tandon di RT 3 dipertimbangkan karena akses menuju permukiman berada di tengah gang yang tidak dapat dilalui mobil. Keberadaan tandon diharapkan membantu ketersediaan air ketika terjadi kebakaran.
Menurut Hafidz, Kelurahan Melayu memiliki 47 RT dengan kondisi lingkungan yang beragam. Namun, kepadatan penduduk membuat sebagian besar wilayah tetap memiliki potensi risiko kebakaran.
“Kalau berbicara mengenai wilayah yang paling berisiko, hampir semuanya berisiko karena Kelurahan Melayu berada di kawasan padat penduduk,” tuturnya.
Ia menambahkan, pihak kelurahan akan menyampaikan imbauan kepada masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dan memperkuat upaya pencegahan kebakaran di lingkungan masing-masing. (W/ADV/S)




