wartapedia.co.id, PENAJAM – Sekretaris Komisi III DPRD Penajam Paser Utara (PPU), Thohiron, menyoroti fenomena penurunan industri sarang burung walet di wilayah PPU. Padahal, sektor ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD). Namun, menurut Thohiron, berbagai tantangan yang dihadapi pengusaha walet dan kurangnya dukungan pemerintah membuat industri ini mulai surut.
“Kadang-kadang Pemerintah ini sudah ketika ada potensi pajak, tetapi ketika masyarakat ini agak kesulitan untuk ini dan itu terkait dengan usahanya kadang-kadang pemerintah tidak mau hadir,” ujar Thohiron.
Hal ini menunjukkan bahwa pemerintah kurang responsif terhadap kesulitan yang dihadapi oleh para pengusaha walet, sehingga mereka merasa tidak mendapatkan dukungan yang memadai untuk mengembangkan usaha mereka.
Thohiron mengamati bahwa populasi walet di PPU mulai menurun dan banyak pengusaha yang merasa kesulitan untuk mempertahankan usahanya. Pasalnya, sifat alami burung walet yang selalu mencari tempat yang nyaman, mereka cenderung berpindah-pindah, yang membuat usaha budidaya walet menjadi tidak stabil.
“Walet ini kelihatannya mulai enggak ada, sudah mulai hijrah atau hengkang dari PPU. Walet ini berpindah-pindah tidak bisa dibudidaya, karena sifat hewaninya seperti itu, mutlak tergantung kepada kenyamanan walet itu sendiri,” katanya.
Selain itu, Thohiron juga menekankan bahwa penghasilan dari sektor ini berangsur-angsur menurun. Penurunan populasi walet dan tantangan dalam budidaya menyebabkan pendapatan dari pajak sarang walet semakin menyusut.
“Kalau sekarang saya melihat bisa dikategorikan berangsur-angsur punah. Jadi, kita berharap (pajak) dari sarang walet itu semakin kecil,” ujarnya.
Kondisi ini memerlukan perhatian khusus dari pemerintah daerah. Pemerintah harus hadir memberikan solusi nyata bagi pengusaha walet yang menghadapi kesulitan. Misalnya, dengan menciptakan lingkungan yang lebih kondusif bagi burung walet untuk menetap dan berkembang biak, atau memberikan insentif bagi para pengusaha untuk tetap bertahan di industri ini.
Thohiron juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan pengusaha untuk mencari solusi terbaik agar industri walet bisa kembali bergairah. Pemerintah perlu proaktif dalam memberikan dukungan, baik dalam bentuk regulasi yang memudahkan usaha walet, maupun dalam bentuk bantuan teknis dan finansial.
Selain itu, edukasi kepada para pengusaha walet mengenai cara-cara menjaga dan meningkatkan populasi burung walet juga sangat penting.
Dengan pengetahuan yang lebih baik, para pengusaha dapat mengadopsi praktik-praktik yang lebih efektif dalam budidaya walet, sehingga dapat meningkatkan produksi dan pada akhirnya meningkatkan pendapatan mereka. (W/Adv/I)




