wartapedia.co.id, SAMARINDA – Wakil Ketua DPRD Kalimantan Timur, Ananda Emira Moeis, menilai minimnya jumlah tenaga gizi menjadi salah satu hambatan serius dalam upaya percepatan penurunan angka stunting di Benua Etam. Menurutnya, persoalan stunting tidak bisa dilepaskan dari kualitas dan ketersediaan layanan gizi di lapangan.
“Kalau bicara stunting, berarti bicara soal gizi. Tenaga gizi ini ujung tombaknya. Kalau jumlahnya kurang, jelas berpengaruh pada pelayanan di lapangan,” tegas Ananda. Kamis (27/11/2025)
Ia menjelaskan bahwa tenaga gizi memiliki peran strategis dalam pendampingan ibu hamil, balita, hingga keluarga berisiko stunting. Mulai dari edukasi pola makan, pemantauan tumbuh kembang anak, hingga intervensi gizi, semuanya sangat bergantung pada keberadaan dan kompetensi tenaga gizi.
Ananda menilai, kondisi saat ini menunjukkan penyebaran tenaga gizi di Kalimantan Timur masih belum merata. Beberapa daerah, khususnya wilayah terpencil dan pedalaman, masih kekurangan tenaga pendukung yang seharusnya menjadi garda terdepan dalam pencegahan stunting.
“Kami di DPRD meminta adanya langkah nyata agar jumlah tenaga gizi bisa ditingkatkan dan penyebarannya lebih merata. Ini penting supaya penanganan stunting di Kaltim dapat berjalan lebih cepat dan efektif,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa peningkatan jumlah tenaga gizi harus diiringi dengan dukungan kebijakan dan anggaran yang memadai. Tanpa komitmen serius dari pemerintah daerah, upaya penurunan stunting dikhawatirkan tidak akan mencapai hasil optimal.
Sebagai pimpinan DPRD, Ananda memastikan pihak legislatif akan terus mendorong pemerintah daerah agar isu stunting menjadi prioritas utama pembangunan sumber daya manusia. Menurutnya, keberhasilan menekan angka stunting akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan generasi Kalimantan Timur yang sehat, produktif, dan siap menyongsong Indonesia Emas 2045. (W/ADV/SR)




